“Lakuin apa yang lo mau,” jawab Varrel santai, lalu menoleh ke asistennya. “Raynard, catat. Konsultasikan langsung dengan arsitek dan timnya Sarasana.” Setelah semua kesepakatan ditutup dengan tanda tangan dan percakapan yang cukup alot, Varrel merapikan dokumennya dan memberi instruksi terakhir. “Sekarang lo pulang dulu ke apartemen lo yang lama. Perawat akan ikut nemenin lo sementara. Besok malam ada dinner.” Tasha melirik. “Dinner?” “Iya. Kita akan ketemu nyokap bokap gue dan Eyang gue.” “Yang minta biar lo cepet dapet anak?” “Iya itu, gak galak kok, Cuma tegas doang.” Tasha menatapnya lekat, lalu bertanya pelan dengan satu alis terangkat, “Mesti ada drama, atau kita main skenario?” Varrel menggeleng. “Ngomong aja sesuai kejadian. Lo hamil, dan akhirnya lo terima tanggung jawab

