Hening. Tasha hanya berdiri di sisi ranjang, menatap wajah Varrel yang tertidur di balik bayang-bayang infus dan pelindung oksigen. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia hanya berdiri. Melihat. Menatap dengan mata yang nyaris tidak berkedip. Kasihan. Itu kata pertama yang mengendap di dadanya. Kasihan… Karena pria itu bekerja terlalu keras. Karena pria itu berdarah-darah demi sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan. Dan ketika tubuhnya remuk… dia ditinggalkan sendiri. Tapi Tasha tak menyuarakan satu pun dari pikirannya. Ia tidak menangis. Tidak memeluk. Tidak mengelus tangan. Ia hanya berdiri… dan menghela napas. Lalu memutar kursi di sisi ranjang. Duduk. Menunggu. Entah menunggu apa. Tapi ia tahu… dirinya tak bisa pergi dari sana malam ini. **** Tasha berusaha menelan makan

