Kuncup Mawar-2

705 Kata

Dita mendongak, terkekeh. “Lho, Ayah kan punya Ibu. Minta disuapin Ibu aja.” Sasongko tertawa pendek. “Halah, Ibumu itu nyuapin anaknya doang, bukan bapaknya.” “Tuh kan, Ayah ngambek.” Dita menyuapkan satu sendok terakhir ke mulut Bram, lalu berdiri. “Padahal tinggal bilang, ‘Yang, suapi aku juga dong.’ Siapa tahu Ibu langsung luluh.” Suasana langsung penuh tawa, ringan dan hangat, seperti lembar akhir dari hari yang melelahkan. Dita sebenarnya betah duduk lebih lama di halaman belakang, apalagi dengan suara jangkrik dan kunang-kunang beterbangan di pekarangan. Tapi suara nyaring dari dalam rumah membuatnya mau tak mau harus beranjak. “Ditaaa! Masuk dulu sebentar yaa!” Suara Ibu Jayeng dari dalam rumah membuatnya menghela napas panjang. “Iyaaa, masuk,” jawabnya malas. Dita melangkah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN