Tersisihkan-3

617 Kata

“Dita,” bisik Bram serak, kedua tangannya menahan pinggul istrinya agar tidak terus bergerak. “Diam... sebentar saja.” Namun Dita hanya menoleh pelan, rambutnya basah menempel di pipi, bibirnya setengah terbuka. Tatapannya tajam tapi lembut, sensual tapi sendu. “Cium aku,” pintanya, nyaris seperti rintihan. Dan seperti hujan yang jatuh tanpa bisa ditahan, Bram menunduk. Bibir mereka bertemu, panas dan lembut di awal, lalu memanas dalam ketergesaan. Ciuman itu dalam dan penuh hasrat. Tangan Bram yang semula hanya menahan, kini bergerak menyentuh d**a Dita, memijatnya perlahan, seolah ingin mengukir bentuknya di dalam ingatan. Dita mendesah kecil di sela-sela ciuman, tubuhnya menggeliat, dan ketika ia merasa tidak sanggup lagi menahan, ia melepaskan ciuman itu dengan napas tercekat. Perla

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN