Bram berdiri di situ, tidak langsung kembali ke dalam, menatap punggung mobil yang menjauh hingga hilang di tikungan. Namun, senyuman Bram hilang ketika Dita benar-benar pergi. Wajah yang semula cerah kembali diselimuti gurat-gurat lelah yang tak hanya datang dari pekerjaan. Bram kembali masuk ke ruangannya, dan tanpa banyak ragu, ia mengangkat ponsel. Jemarinya menekan nama yang sudah disimpan lama di favorit. Ashley. Sementara itu, Dita tidak jadi bertemu Tasha siang ini. Ia baru akan mengajak sahabatnya makan malam nanti, saat Bram sudah benar-benar tenggelam dalam dunia kampusnya. Maka setelah melajukan mobil pulang, ia langsung masuk ke apartemen. Sepi. Tapi tidak menyedihkan. Justru ada semangat yang tumbuh. Ia mengganti sprei dengan warna baru linen putih bersih yang dipadukan d

