Dita tersenyum kecil, melangkah menuju kamar, lalu menutup pintu perlahan. Begitu punggungnya menyentuh kasur, ia tak menahan lagi helaan napas yang dari tadi ditahan. Ia menatap langit-langit kamar yang sunyi. Bukan hanya karena tak ada suara, tapi karena pikirannya kosong. Atau barangkali... terlalu penuh. Ashley. Kata-katanya. Tatapan angkuhnya. Dan ucapan tentang tiga bulan. Dita mengembuskan napas keras, menutup matanya rapat-rapat. “Ini hanya sandiwara. Ini hanya... sandiwara.” Tapi entah kenapa, hatinya... seperti sedang tidak bermain. Sementara di sisi lain, di dapur yang setengah terbuka ke arah taman belakang, aroma tumisan rempah dan kaldu santan menggantung di udara. Jayeng dan Ayuning berdiri berdampingan di depan meja marmer panjang, tangan mereka cekatan mengiris dan men

