Bumi yang Menatap Langit-2

707 Kata

Dita hanya tersenyum kecil. Ia tahu itu kode dari "budget terbatas", tapi ia juga tahu Kevin sudah berusaha. Mereka duduk di meja yang nyaman, meski tak menghadap langsung ke pemandangan luar. Lilin kecil menyala di tengah meja. Menu diberikan, lalu pelayan undur diri sebentar. “Maaf ya, harusnya kamu dapat tempat yang lebih indah,” gumam Kevin. “Kamu tahu apa yang lebih indah dari pemandangan pelabuhan malam hari?” Dita menyandarkan dagunya di punggung tangan. “Wajah kamu yang panik tapi tetap ingin nyenengin aku.” Kevin tertawa pelan. “Gombal kamu makin licin aja sekarang.” “Mungkin karena kedinginan,” sahut Dita, matanya menatap Kevin penuh tawa. Tapi di balik matanya, ada riak yang tidak terlihat siapa pun. Tak lama, makanan datang. Sepiring steak salmon, salad arugula dengan dre

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN