“Ngapain Mas liatin aku kayak gitu?” gumam Dita sambil mengunyah pelan. “Karena kamu manja. Dan lucu. Dan habis bikin Mas kehabisan napas dua kali dalam sehari,” jawab Bram, mencium pelipisnya ringan. Dita tertawa pelan, menyandarkan kepala di bahu Bram, menatap jendela kamar yang memperlihatkan salju mulai turun perlahan. Butiran putih itu menari-nari, menciptakan dunia kecil yang tenang dan damai di luar sana. “Kalau terus kayak gini, aku bisa lupa pulang, Mas,” bisiknya. Bram menarik tubuh Dita lebih dekat, menempelkan kening ke pelipis perempuan itu. “Emang harus pulang ke mana? Rumah kita... di mana pun kamu ada.” Dan malam itu, sambil menyantap makan malam dalam pelukan, mereka tidak bicara banyak. Tapi keheningan itu tidak dingin. Ia penuh. Hangat. Manja. Dan mengikat lebih kua

