Satu dan Dua Masalah-3

760 Kata

Sementara itu, Dita berdiri sejenak di lorong, menarik napas panjang seolah ingin mengembalikan detak jantungnya ke ritme yang wajar. Suara Rania di telepon masih terngiang, membahas soal pasokan bahan baku yang mendadak terhambat dan seorang pegawai baru yang tiba-tiba mengundurkan diri. Tapi bukan itu yang membuat Dita diam lama melainkan kenyataan bahwa hidup terus berjalan, bahkan ketika hatinya masih tertinggal di satu ruangan rumah sakit lantai empat. Ia melangkah kembali masuk, senyum tipis terbit di wajahnya meski matanya masih sembab. Kevin dan Claire menoleh, sementara Bram berdiri dan menyambutnya dengan pandangan lembut. “Aku harus pergi,” kata Dita pelan, menoleh pada Kevin. Suaranya bergetar. “Tapi kamu... harus janji sembuh. Harus terus hidup. Buat kita semua... dan buat k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN