Sementara itu, Dita berjalan pelan ke kamar, melepas sepatu dan mantel sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Tak lama ia menatap langit-langit, ponselnya bergetar di atas meja kecil. Layar menampilkan nama yang tak pernah gagal membuat jantungnya menegang dan melunak sekaligus. Mas Bram. Dita segera mengangkatnya. “Halo, Mas…” Suara di ujung sana terdengar agak berat. “Halo, Sayang.” Dita memicingkan mata. “Suara Mas kenapa? Serak, ya?” Bram tertawa kecil, pelan, tapi suaranya tetap terdengar serak. “Enggak, cuma kecapekan. Tadi banyak diskusi teknis sama pihak yayasan dan rektorat cabang Surabaya.” Dita mengangguk sendiri, meski Bram tak bisa melihat. “Jangan diforsir, ya. Sudah minum vitamin belum?” “Sudah, Dokter Nadita,” jawab Bram geli, lalu terdiam sejenak sebelum menamb

