Dita menoleh pada Bram yang tengah membereskan alat masak. Suaminya tampak tenang, namun ia tahu pasti Bram mendengar semuanya. Tanpa berkata apa pun, Bram melangkah mendekat, mencium kening Dita singkat, lalu membisikkan dengan senyum tenang, “Aku keluar sebentar, Sayang.” Dita hanya mengangguk pelan. Begitu Bram membuka pintu paviliun, suara perdebatan langsung terhenti. Abimana dan Ayuning sama-sama menoleh, sedikit terkejut melihat putra mereka berdiri tenang dalam balutan kaus dan celana linen tipis, wajahnya bersih tanpa jejak guncangan. Bram menghampiri perlahan. “Maaf ya, Bu, Pak,… sampai terdengar sampai dalam,” ucap Bram lembut. Abimana menghela napas, menepuk pundak putranya. “Maafkan Bapak juga, Nak. Kami hanya… khawatir. Terlalu lama menyimpan semua ini.” Namun Ibu Ayuni

