Bram tersenyum, membiarkan istrinya larut dalam nostalgia. Mereka duduk di meja kayu tua yang dilapisi taplak bunga-bunga sederhana. Tak lama kemudian, dua piring gudeg komplit tersaji di hadapan mereka, dengan telur pindang, sambal goreng krecek, dan suwiran ayam opor yang harum rempah. Dita langsung mengambil sendok dan menyuapkan suapan pertama dengan wajah penuh kemenangan. “Ini, nih. Rasanya masih sama! Mas, kamu harus coba telurnya, lembut banget. Aku tuh udah craving ini dari dulu.” Sambil terus mengunyah, Dita mulai berbicara cepat, suaranya nyaris tak memberi jeda. “Mas, bayangin deh kalau Ruang Rasa buka cabang di sini. Tapi jangan cuma jual kopi. Kita bisa bikin fusion, menunya tuh kombinasi makanan khas Yogyakarta dan western. Jadi tetap berkelas, tapi ada sentuhan tradisiona

