Dita langsung menoleh dengan mata berbinar. “Boleh ikut?” Bram mengangguk, mencubit pelan ujung dagu istrinya. “Aku nggak akan ke mana-mana tanpa kamu, Sayang.” Galeri seni itu ternyata berdiri tak jauh dari Benteng Vredeburg, hanya beberapa langkah dari pedestrian besar yang sore itu ramai oleh turis dan penduduk lokal. Dari luar, bangunannya tampak seperti blok kaca besar berbingkai baja hitam, minimalis, modern, dan sangat kontras dengan arsitektur Yogyakarta pada umumnya. Di dalam, pencahayaan hangat dan ruang putih terbuka memberi napas pada karya-karya yang terpajang megah. Sang pelukis, pria sepuh bernama Om Reno, langsung menyambut Bram dan Dita dengan hangat. “Anaknya Abimana, ya? Wah, makin besar kamu sekarang,” ucapnya sambil menepuk bahu Bram. Lalu ia menoleh ke Dita dengan

