Di ruang makan, Ibu Dahayu menggeleng pelan, senyum di wajahnya tertahan oleh was-was. Rania memang manis, lincah, dan tulus—tapi tingkah mereka kadang membuatnya was-was sebagai seorang ibu. Sambil menatap meja makan yang sudah ditata, ia menghela napas kecil dan mengangkat ponsel. Layar menyala, menunjukkan nama kepala prodi. “Iya, Pak. Mohon dipercepat ya. Kalau bisa, Rania sidang dalam minggu ini. Saya takut anak saya keburu nabung dosa duluan…” Karena sesuai dugaan Ibu Dahayu, baru saja Rania memasuki kamar Prabu, tubuhnya langsung melesat seperti anak panah yang menemukan sasaran. Tanpa aba-aba, ia melingkarkan tangan ke leher sang kekasih dari belakang. Prabu yang kala itu sedang berdiri memeriksa berkas di dekat meja, terpaksa menghentikan aktivitasnya sejenak dan menengok seteng

