Mendekati Hari Pembalasan-3

816 Kata

Rania menatap kedua sahabatnya, lalu tersenyum lemah. “Gue beruntung banget punya kalian.” Siang itu, mereka menghabiskan waktu di kafe seperti biasa. Menertawakan hal-hal bodoh, mencicipi resep baru, dan memotret satu sama lain sambil menggoda Rania yang sebentar lagi jadi pengantin. Mereka akan bertemu lagi seminggu kemudian, saat lonceng gereja berdentang, saat bunga-bunga dijatuhkan di altar, saat Rania berjalan dengan gaun putih… menuju pria yang tidak boleh, tidak akan pernah boleh dimiliki perempuan lain. Menjelang sore, Rania mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah, jendela sedikit terbuka agar udara sore bisa menenangkan pikirannya yang masih campur aduk soal keberangkatan ke Bali nanti malam. Tapi rasa lelahnya justru berlipat ketika ia tiba di depan pagar rumah dan melihat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN