“Belajar?” Rania mengangkat alis. “Buat apa, Mas?” Bram menjawab sambil meneguk air putih. “Besok malam kekasih saya akan datang. Ia akan menginap. Saya ingin menyambutnya dengan sesuatu yang berbeda.” “Oohh~ romantis banget sih,” sela Dita dengan gaya menggoda. “Berarti semua ini bakal bikin kamu dipuji abis-abisan, Pak. Tapi ingat ya... separuh kesuksesan menu ini karena tangan ajaib aku. wajib nilai jadi gede.” Ia mengedipkan sebelah mata dengan jahil. Rania menahan senyum, menyendok mashed potato sambil membatin, “Ternyata itu alasannya. Dingin, kaku, formal... tapi belajar masak demi pacar. Kek Mas Prabu, dingin tapi anget kalau buat orang tersayang.” Rania melanjutkan makan dalam hening yang nyaman, sesekali mendengar suara sendok, suara Dita yang bercerita setengah mengomel soal

