Pagi yang Panas-2

709 Kata

“Nanti juga keluar, Sayangku.” Mereka terdiam sejenak, hanya saling menatap dan bernapas. Tapi gairah belum usai. Prabu membaringkan Rania dalam posisi terlentang, lalu mengangkat kedua kaki istrinya hingga menempel ke dadanya. Posisi itu membuka semuanya, membuat Prabu masuk dalam dengan sudut baru yang langsung membuat tubuh Rania melenting. “Mas... aduh, Mas...” desahnya nyaris seperti doa yang gemetar. Prabu menggenggam pergelangan kaki Rania, mencium lututnya, lalu mendorong masuk sambil menatap mata istrinya yang basah dan penuh cinta. Ia tetap pelan, tapi setiap dorongan membawa ledakan. Rania menangis pelan, mencakar seprai dengan gemetar. Dan saat ia mengira semua sudah selesai, Prabu kembali menyusup dalam, kini lebih lambat, tapi menghujam tempat paling sensitif. Klimaks be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN