Kecanduan-3

744 Kata

“Mas, aku pusing...” rengeknya. Bram tertawa pelan dan mengusap ubun-ubunnya dengan lembut. Makan siangnya pun romantis. Mereka duduk di pinggir danau kecil, makan nasi goreng seafood dan ayam bakar sambil saling menyuapi. Dita tentu saja duduk di pangkuan Bram karena bilang kursinya keras. Nadira hanya bisa menggelengkan kepala, lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirim voice note ke grup keluarga, “Mama, udah belum persiapan resepsinya? Mereka makin lengket itu.” Sore menjelang malam, mereka mencoba satu wahana terakhir: Bianglala. Dita duduk dengan santai, tapi begitu gondola mulai bergerak dan goyang pelan, wajahnya langsung pucat. Beberapa menit kemudian, saat turun... ia muntah. Nadira tertawa keras. “Tuh kan! Gaya doang naik wahana tinggi!” Tapi Bram tetap tenang. Ia meraih tisu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN