Rumah Penghukuman-2

719 Kata

Ia buru-buru membenahi bajunya dan membuka pintu. Rania masih berdiri di luar bersama Prabu yang hanya berdiri kaku di depan ruang kerja Bram. “Selamat siang, Pak Prabu. Silakan, ya masuk,” ucap Dita sopan, menahan napasnya. “saya pinjam Rania nya dulu ya? Mau ngobrol.” Begitu Prabu masuk, Dita langsung menarik tangan Rania menjauh dari ruangan. Mereka berdua menuju taman kecil di luar gedung, lalu duduk di bangku semen panjang. Rania menatapnya datar. Dita? Langsung peluk sahabatnya itu erat-erat. “Kangen, woy. Gila! Lo dari Jepang gak ngasih kabar banget. Mana oleh-olehnya, hah?” Rania tidak membalas pelukan itu. Dia tetap duduk kaku. “Ada oleh-oleh, tapi kayaknya yang gue harus kasih sekarang itu... teguran.” Dita mengerutkan kening. “Apa sih?” Rania menatap lurus. “Sejak kapan lo

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN