Suasana menjadi hening sejenak. Ayuning menyeka sudut matanya secara diam-diam, sementara ayahnya duduk lebih kaku dari biasanya. Dan Bram, dengan suara yang mantap dan wajah yang tampak jauh lebih dewasa dari umurnya, akhirnya berkata: “Aku paham, Eyang. Aku paham bahwa menikah bukan cuma soal hari ini. Tapi soal hari-hari panjang sesudahnya. Aku janji... aku akan menjaga Dita sebaik mungkin. Bukan karena aku harus. Tapi karena aku mau.” Suaranya rendah namun menggetarkan. Matanya menatap lurus ke arah Eyang Bromo, tanpa ragu, tanpa gugup. “Entah ini awal yang aneh, Eyang. Tapi... aku akan pastikan akhirnya bukan akhir yang menyakitkan. Aku akan jaga Dita. Karena sekarang... dia istriku.” Ada keheningan yang hangat mengisi ruang setelah itu. Tak ada lagi tawa. Tak ada lagi basa-basi.

