Pengantin Wangi-2

711 Kata

Dita mendesah. Belum sekarang. Ia belum siap menjelaskan semuanya. Belum berani. Belum tahu harus mulai dari mana. Terutama karena suara-suara di seberang itu bisa saja terdengar oleh eyang atau orang rumah. Bisa gawat. Ia menyemprotkan parfum ringan, lalu menatap dirinya di cermin. Bibirnya dibuat lebih merah, rambutnya dibiarkan sedikit mengembang liar, seolah habis diremas semalam. Ia menyunggingkan senyum licik. “Mari kita mainkan ini dengan elegan dan... sedikit akting.” Begitu keluar kamar, Dita bertemu seorang pelayan muda yang tengah merapikan vas bunga. “Mbak, Mas Bram di mana, ya?” “Di halaman belakang, Mbak. Sama Bapak dan Ibu.” “Terima kasih.” Dita pun mulai melangkah. Tapi di tengah jalan, ide brilian muncul di kepalanya. Kalau mau buat semua orang percaya pada pernikaha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN