Rania mengikuti di belakang mereka, dan melihat sendiri bagaimana langkah Prabu menjadi lebih cepat. Seolah mendengar Daisy sakit adalah pukulan yang membuat dunianya goyah. Mereka masuk ke mobil, sopir pribadi Ibu Dahayu sudah menunggu dan langsung membawa kendaraan melaju. Di dalam, suasana menjadi tegang. Prabu duduk di sebelah Rania, namun sama sekali tak bicara. Wajahnya penuh kecemasan, matanya menatap lurus ke jendela tapi tidak benar-benar melihat. Tangan kirinya mengepal di paha, rahangnya mengeras. Rania hanya diam, mengamati dari sudut mata. Ini pertama kalinya ia melihat Prabu dengan raut seperti itu—bukan marah, bukan dingin, tapi... takut. "Demam tinggi anak seusia Daisy memang bikin panik," lanjut Ibu Dahayu, masih berusaha tenang. "Tadi pagi dia sempat tanya kamu, Prabu.

