“Nanti aja, Mbak… Pak Prabu dimana ya?” “Di balkon luar tadi, Bu. Sepertinya sedang berenang.” Rania mengangguk dan berjalan ke arah balkon. Tapi langkahnya terhenti sesaat begitu sampai di ambang pintu kaca, pandangannya terpaku pada sosok di tengah kolam renang yang diterangi sinar bulan—Prabu. Tubuhnya yang setengah terendam air menampakkan garis-garis otot di d**a dan perutnya yang terlatih. Cahaya perak bulan jatuh di atas permukaannya, memantul pelan seperti puisi yang tak selesai ditulis. “Baru bangun?” tanya Prabu, tanpa menoleh. Rania hanya mengangguk dan duduk di bibir kolam, membiarkan kakinya menyentuh permukaan air. “Nanti bangunin Daisy ya, suruh makan,” ucapnya pelan. “Kenapa gak sama kamu aja?” “Saya mau pulang, Pak.” “Makan dulu, Ra. Pelayan udah bikin makanan tuh

