Prabu menutup telepon dengan geram dan menggigit bibir bawahnya. Ia menyandarkan kepala ke jok, menatap atap mobil. Semua ini rasanya terlalu kacau. Rania menghilang. Chat memalukan. Sekarang… dia harus pura-pura tenang di butik? Dengan enggan, ia menyalakan mesin mobil dan keluar dari parkiran kafe. Untuk sementara, ia harus tahan rasa gelisahnya. Begitu sampai di butik, Prabu langsung disambut oleh salah satu staff wanita yang mengenakan seragam elegan dan senyum sopan. “Selamat siang, Pak Prabu. Silakan ikut saya, Ibu Vita sebentar lagi berangkat ke bandara,” ucapnya cepat sambil mempersilakan sang rektor masuk ke lorong butik yang bergaya klasik-modern, penuh pajangan kain premium dan patung manekin. Prabu hanya mengangguk, mengikuti langkah cepat sang staff hingga tiba di sebuah r

