Sebelum Prabu sempat membalas, suara lembut dan tegas ibunya menyusul, “Sana. Takutnya Rania kenapa-napa. Dia nggak bawa tas, jadi gak bisa hubungi kamu.” Prabu menghela napas, bangkit tanpa kata. Melangkah cepat menuju area belakang gedung. Dan apa yang ia temukan langsung memancing kemarahan yang menyalak di matanya. Rayyan tengah mencengkeram tangan Rania. Rania berusaha melepaskan diri. “Lepaskan tangan kamu!” Suara Prabu terdengar dalam dan menggelegar, menghentikan Rayyan yang langsung menoleh kaget. Prabu melangkah cepat, melepaskan paksa pegangan Rayyan dari Rania, lalu menyembunyikan Rania dibalik tubuh tegapnya. “Pak Prabu? Ma-maaf, Pak. Saya nggak berniat bertindak kasar. Saya hanya ingin bicara dengan Rania, ini salah paham—” “Gak mau,” potong Rania pelan namun tegas. P

