“Temuin lah, minta maaf sama dia. Jangan jadi cewek t***l deh. Gue juga yakin ada yang lo sembunyiin. Dari tadi lo tuh... beda.” “Apasi, Sha...” gumam Rania pelan, hampir seperti anak kecil yang kepergok menyimpan rahasia. Tapi selebihnya, ia tetap diam. Masih keras kepala, atau mungkin... masih belum bisa mengakui apapun, bahkan pada dirinya sendiri. Tasha menghela napas untuk terakhir kali malam itu. “Gue mau balik. Udah mau tengah malam. Lo mending beresin sih masalah lo.” Dan tanpa menunggu balasan, Tasha pergi meninggalkan Rania sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa begitu sepi. Di balik dinding kaca, lampu-lampu cafe mulai meredup, menyisakan bayangan remang di wajah Rania yang masih belum bergerak. Ia bersandar pada meja, menatap kosong ke arah tumpukan skripsinya yang tak t

