Ruang Hidup dan Mati-3

794 Kata

Prabu hanya mengangguk pelan. “Hmmmm… saya juga sama. Mau yang terbaik aja. Tapi kadang, kita gak tahu yang terbaik itu datangnya dari siapa.” Malam itu, di bawah langit Bandung yang mulai berkabut, obrolan ringan itu terasa seperti celah kecil yang terbuka perlahan. Prabu tidak tahu apakah langkah ini benar, tapi untuk pertama kalinya setelah luka yang ditinggalkan Rania, mungkin... ada ruang untuk memulai lagi. **** Melebihi minggu kedua, Rania masih belum juga bertemu dengan Prabu. Ia hanya bisa menebak keberadaan pria itu dari kata-kata pelayan apartemen—bahwa Prabu pergi ke Bandung bersama keluarganya. Nomornya tetap tidak bisa dihubungi, seolah dunia sedang memberi jarak pada mereka. Rania menahan rindunya, tapi juga menahan luka yang tak kunjung sembuh. Ia tetap pergi ke kafe set

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN