Pertiwi duduk di samping si kecil, menanggapinya dengan sabar dan ceria, membuat Daisy seolah lupa kalau sudah lebih dari dua minggu ia tidak memanggil ‘Bunda’. Ia memang teralihkan oleh kehangatan perempuan yang kini duduk bersama mereka. Tapi Prabu tahu... hanya Rania yang tinggal dalam ingatan paling dalam gadis kecil itu. Meskipun Pertiwi tulus dan baik, tidak ada yang bisa menggantikan tempat itu. Dan Prabu juga tahu, ia belum sepenuhnya membalas Rania. Belum membalas pesan atau panggilannya. Prabu ingin menemui Rania secara langsung—ingin melihat wajah perempuan itu saat semua kebenaran akhirnya diutarakan. Saat memasuki kota Jakarta yang panas dan ramai, Daisy mulai merengek. “Yayahhhhhh! Mo kkue cokelat yaa? Boyehhh?” rengeknya sambil menepuk-nepuk lutut Prabu dari belakang. “Bol

