Anggur dan Hotel-3

585 Kata

Ciuman itu tidak hanya tentang hasrat, tapi juga tentang pengakuan. Bahwa di sini—dalam pelukan ini—mereka saling memiliki. Lidah mereka menari dalam keintiman yang perlahan mengaburkan batas. Rania mendesah kecil, gemetar oleh kenikmatan dan rasa aman yang datang bersamaan. Namun... Seketika, Rania terdiam. Matanya membulat. Ia baru menyadari sesuatu—bahwa tubuh pria di bawahnya mulai merespons, keras dan nyata, menyentuhnya dari balik lapisan kain tipis. Ingatan samar tentang malam di Bali melintas, bagaimana besar dan kuatnya milik Prabu, dan wajahnya langsung memerah hebat. “Udah ah!” ucap Rania tergagap, lalu mendorong d**a Prabu sekuat tenaga dan bergerak mundur. Namun sialnya, karena terburu-buru, tubuhnya malah kehilangan keseimbangan. “Ra—!” “AAAA!” BRUK! Tubuh Rania jatuh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN