“Sembunyi, Kak.” Elang menggeleng. “Nggak.” “Kak!” Senja menutup mulutnya sendiri. “Jangan konyol.” Pria tersebut mencubit dagu Senja, hendak mencium bibirnya lagi. Namun, mantan istrinya itu mempertajam tatapannya. “Biar semua orang tau bahwa kita nggak pernah benar-benar selesai, Senja.” Elang memberi penekanan pada kalimatnya. “Kalaupun pernikahan ini batal, itu memang yang saya harapkan.” “Kak Elang benar-benar nggak waras!” “Ya. Saya gila. Saya gila karena kamu! Saya seperti ini karena kamu.” Senja tertegun dalam beberapa saat. Keduanya saling beradu pandang, seolah saling mengungkapkan perasaannya melalui sorot mata. Tok-tok-tok! Suara ketukan terdengar, makin cepat dan tak sabar. Senja makin berkecamuk. Ia gelisah perempuan tersebut berusaha mencari cara untuk lepas dari

