Mirasih langsung memanggil putranya yang masih berada di luar. Ia membawa Baskara masuk. “Mama keluar dulu, Sayang. Kamu bicara sama Baskara berdua, ya?” Senja mengangguk. Mirasih mengajak Yogas keluar, memberi kesempatan Baskara dan Senja bicara empat mata. Setelah bunyi pintu ditutup terdengar, Senja menatap Baskara. Tatapannya dingin. Matanya yang sedikit bengkak itu berkedip pelan berulang kali. Baskara langsung meraih tangan Senja. Ia menggenggamnya, tanpa berucap apa pun. “Aku mau cerai, Mas.” Ucapan itu terlontar ringan dari bibir Senja. Baru beberapa menit lalu ia terbangun, dan ucapan pertama yang harus Baskara dengar adalah permintaan cerai. Di sampingnya, Baskara membisu. Tangan Senja yang semula digenggam erat, kini perlahan mengendur. “Kamu … bicara apa?” Baskar

