Sejenak, suasana di kafe itu terasa hening. Baskara memilih meja yang berada di pojok, demi meminimalisir atensi orang-orang akan tertuju pada mereka. “Pa.” Baskara memanggil pendek, ia menatap sang mertua dengan serius. “Saya ingin bertanya satu hal.” Bram mengangguk hati-hati. “Tanya saja, Bas.” Baskara bergantian melirik ke arah Elang. Pria itu duduk tepat di samping Bram. “Papa mengenal Elang?” Bram tidak lantas menjawab. Ia mengerjap cepat, sedikit melirik ke arahElang. Meski ragu, pria tersebut akhirnya mengangguk patah-patah. “Iya, tentu saya kenal dengan Elang, Bas.” Mendengar pengakuan Bram, Baskara pun menggeleng pelan. “Bukan, bukan itu maksud saya, Pa.” Bram menatap bingung. Ia menghela napas pelan. “Lalu, apa lagi, Bas?” “Saya mendapatkan informasi yang cukup ter

