“Acara kayak gini lebih enak daripada di gedung mewah,” komentar salah satu tamu. “Sederhana, tapi berkesan.” Pagi itu halaman belakang rumah keluarga Mahendra terasa ramai dan hangat. Tidak ada dekorasi berlebihan, hanya dekorasi sederhana seperti kursi kayu, bunga putih, dan meja kecil di tengah taman. Beberapa kerabat berbincang pelan, sebagian lagi sibuk memotret suasana dengan ponsel. Dharma tersenyum sambil menyalami tamu itu. “Iya, sudah cukup mewah kalau hatinya tenang.” Ratna datang membawa nampan berisi minuman ringan. “Silakan, Pak Hendra, Bu Klara,” ujarnya ramah. “Jangan sungkan.” Tawa kecil terdengar di antara mereka. Alma berdiri tak jauh dari situ, memegang kotak cincin dengan wajah serius, seperti sedang menjalankan tugas besar. Ketika melihat Adrian berdiri di tengah
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


