Lorong rumah itu begitu sunyi hingga bunyi dentuman jam dinding terdengar jelas di kejauhan. Rose baru saja bangun, tenggorokannya kering, sementara gelas di nakas hanya terisi udara kosong. Dengan langkah pelan, ia keluar kamar, niatnya hanya menuju dapur di lantai satu. Namun baru beberapa langkah, rasa tidak nyaman menyelusup ke tulang belakangnya. Ada yang mengikuti. Ia menoleh cepat—kosong. Hanya bayangan dinding dan cahaya lampu temaram yang menemani. Hanya perasaan, Rose. Jangan paranoid. Ia menarik napas, melangkah lagi. Tapi detak jantungnya makin tak beraturan, seakan tubuhnya memberi alarm. Kali ini, ketika ia menoleh lagi—jantungnya hampir meloncat keluar. Seseorang berdiri di ujung lorong. Tubuhnya terbalut pakaian serba hitam, wajahnya tertutup topeng, hanya sepasang ma

