Pagi itu ruang makan kediaman Jeaderos Rajendra terisi cahaya keemasan yang menembus tirai tipis. Aroma kopi hitam bercampur dengan wangi roti panggang hangat, tapi suasana meja panjang itu sama sekali tidak hangat. Rosevelle duduk di ujung meja, sendoknya bergerak lambat mengaduk sup yang sudah mulai mendingin. Sesekali matanya melirik singkat pada pria di seberangnya, sebelum buru-buru kembali menunduk.
Eros, dengan kemeja putih yang lengannya digulung santai, tampak tenang menyesap kopi. Tatapannya lekat, seakan menikmati setiap gerak gugup Rose lebih daripada sarapannya sendiri. Senyum tipis terbit di bibirnya ketika akhirnya membuka suara.
“Kau tampak tegang sekali hanya untuk sekadar sarapan, Rose. Apa kejadian di taman bunga masih membekas begitu dalam di kepalamu?”
Sendok di tangan Rose terhenti. Rahangnya mengeras. Ia menoleh pelan, sorot matanya menusuk, tapi bibirnya hanya mengucapkan dingin, “Aku muak makan satu meja dengan pria b******n sepertimu.”
Eros terkekeh kecil, meletakkan cangkirnya dengan tenang. “Sayang sekali… meja ini tidak bisa memilih tamunya. Sama seperti dirimu.”
Rose hendak membalas, ketika suara televisi di dinding ruang makan menyelusup di antara mereka. Saluran berita pagi menampilkan headline mencolok.
“SKANDAL HEBOH! Putra keluarga Haryatama— Akashena Haryatama tertangkap basah berselingkuh dengan sosialita muda, Mivana Recca.”
Rose spontan menoleh. Matanya melebar ketika layar menampilkan rekaman foto-foto paparazi: Akashena, pria yang bertunangan dengannya, tertangkap tengah bergandengan tangan mesra dengan Mivana di sebuah hotel mewah. Ada juga potongan video samar yang jelas-jelas memperlihatkan kedekatan mereka di lobi.
Jari Rose yang menggenggam sendok bergetar, wajahnya memucat. “Itu… tidak mungkin.” Suaranya nyaris tercekat.
Eros, sebaliknya, duduk tenang sambil menyandarkan punggung ke kursi. Senyum miring menghiasi wajahnya, seakan berita itu hanyalah hiburan ringan di pagi hari.
“Sepertinya mantan tunanganmu punya selera yang cukup… menarik.” Pandangannya sengaja bergeser pada wajah Rose. “Mivana Recca, hm? Kalau tidak salah, teman dekatmu semasa kuliah, bukan?”
Rose menoleh cepat, sorot matanya penuh luka dan amarah bercampur. “Diam.”
Namun Eros hanya tertawa pelan, suaranya rendah, menggelitik tapi juga menohok. “Lucu sekali. Kau begitu sibuk membenciku, sementara pria yang selalu kau bela mati-matian ternyata sibuk mencicipi sahabatmu sendiri.”
Rose berdiri mendadak, kursinya bergeser berdecit keras di lantai. Dadanya naik turun, wajahnya merah padam menahan perasaan yang bercampur aduk.
Rose masih terpaku menatap layar ketika reporter melanjutkan dengan nada lebih sensasional.
“Tak berhenti sampai di situ, kabar mengejutkan datang dari sumber terdekat Mivana Recca. Disebutkan bahwa sosialita muda itu kini tengah mengandung, memasuki usia kandungan dua bulan. Publik menduga kuat bahwa ayah dari bayi tersebut adalah Akashena.”
Gelas di tangan Rose bergetar hebat. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Kandungan? Dua bulan? Kata-kata itu memukul kepalanya tanpa ampun.
Namun berita belum berhenti. Reporter kembali bicara, dan kali ini layar menampilkan foto dirinya bersama Akashena saat acara pertunangan tahun lalu.
“Skandal ini juga menyeret nama Rosevelle Ishvanty, tunangan resmi Akashena yang dikenal sebagai pewaris Velle Florist. Banyak pihak berspekulasi bahwa Akashena berselingkuh di belakang Rosevelle. Hingga saat ini belum diketahui apakah Rose telah mengetahui kabar ini atau belum.”
Rose sontak berdiri, wajahnya memucat hebat. “Tidak… tidak mungkin…” bisiknya.
Eros hanya mengangkat alis, seolah sedang menonton pertunjukan yang sudah ia prediksi sejak awal. Ia menyesap kopinya pelan, lalu meletakkan cangkir porselen itu dengan bunyi klik yang tajam di telinga Rose.
“Kini semua orang membicarakanmu, Rose.” Suaranya tenang, tapi menusuk. “Tunangan yang dikhianati. Bisa-bisanya dia tidak bersyukur memiliki wanita secantik dirimu.”
Rose menoleh cepat, matanya berair tapi menyala marah. “Diam kau, Eros! Kau tidak tahu apa-apa—”
Eros bangkit, melangkah mendekat dengan tatapan predator yang tak memberi ruang kabur. Jemarinya menyentuh dagu Rose, memaksa wajah itu kembali mendongak ke arahnya.
“Oh, aku tahu lebih dari yang kau kira.” Senyumnya sinis. “Dan sekarang… aku ingin tahu, apa yang akan kau lakukan setelah semua orang melihatmu sebagai perempuan yang dipermalukan?”
Pikiran Rose berputar liar. Kata-kata reporter terus menggema di telinganya. Mengandung dua bulan… perselingkuhan… Rosevelle ikut terseret…
Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena marah, tapi juga rasa takut bercampur kalut. Ia bahkan tidak menangkap satu pun ucapan Eros barusan.
“Aku butuh ponselku,” ucapnya lirih, hampir seperti gumaman. Tapi matanya menatap lurus ke arah Eros, penuh tuntutan. “Kembalikan, Eros. Aku harus memastikannya sendiri. Aku harus menghubungi seseorang… Clara, atau siapa pun yang bisa memastikan ini semua benar atau tidak.”
Eros terkekeh pelan, seolah sedang menikmati penderitaan yang terpampang jelas di depan mata. “Jadi akhirnya kau butuh sesuatu dariku, hm?” Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi, tatapannya begitu puas.
“Aku tidak main-main!” suara Rose meninggi, suaranya pecah oleh kalut. “Kau boleh menahanku di sini, kau boleh memperlakukanku seenaknya, tapi aku berhak tahu kebenaran ini! Kembalikan ponselku, Eros!”
Eros menunduk sedikit, jemari mengetuk meja kayu panjang itu berirama, mempermainkan Rose dengan ketenangannya. “Lucu sekali… kau begitu putus asa ingin tahu kebenaran, tapi justru memohon pada pria yang katanya paling kau benci. Kau sadar, Rose?”
Rose mengepalkan tangannya. “Aku tidak peduli denganmu sekarang. Aku hanya ingin ponselku.” Suaranya kali ini lebih lirih, nyaris seperti permintaan, bukan lagi perlawanan.
Rose menatap Eros tanpa berkedip, menunggu jawaban. Nafasnya memburu, dadanya naik turun tidak teratur.
Hening beberapa detik, lalu Eros mengangkat tangannya memberi isyarat singkat pada Antonio. Tanpa banyak tanya, Antonio mengangguk dan segera meninggalkan ruangan.
Rose menelan ludah, jemarinya meremas ujung taplak meja, mencoba menahan gejolak yang membuat tubuhnya gemetar.
Tak sampai lima menit, Antonio kembali dengan sebuah ponsel di tangannya. Ia menyerahkannya pada Eros dengan sikap hormat.
Eros menerima ponsel itu, menimbangnya sebentar di tangan. Senyumnya tipis, menatap Rose seakan ingin mengatakan kau tetap bergantung padaku. Baru kemudian ia meletakkan ponsel itu di depan Rose di atas meja.
“Ambil.” Suaranya berat, datar, tapi menyiratkan kuasa penuh.
Rose meraih ponselnya dengan cepat, seolah itu satu-satunya penyelamat yang tersisa di dunia.
🌹🌹🌹
Malam itu udara terasa dingin menusuk, meski lampu-lampu taman di sekitar kolam renang memancarkan cahaya hangat keemasan. Rose duduk di tepi kolam, kakinya menggantung menyentuh permukaan air yang beriak pelan.
Ponsel yang sedari siang tak lepas dari tangannya kini tergeletak di sampingnya. Ratusan notifikasi, berita daring, dan pesan yang tidak sempat ia balas hanya mempertegas satu hal—pengkhianatan Akashena bersama Mivana Recca bukan sekadar gosip murahan. Itu nyata.
Matanya terasa panas, tetapi air mata enggan jatuh. Rasanya seperti dadanya diremas dari dalam, kosong sekaligus sakit. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Akash, juga keluarganya—tak satu pun yang memberi jawaban. Hening, dingin, seakan seluruh dunia sepakat meninggalkannya sendirian di dalam kehancuran ini.
Rose menatap pantulan wajahnya di air, berusaha menemukan kembali dirinya yang kemarin masih percaya, masih utuh. Tapi yang ia lihat hanyalah sosok perempuan dengan mata sembab, penuh luka, dan tidak tahu harus ke mana lagi.
“Wajah seperti itu… bukan milik seorang Rosevelle Ishvanty.”
Suaranya berat, dingin, muncul begitu saja di sampingnya. Rose sontak terlonjak, menoleh cepat. Eros sudah berdiri di sana—tanpa suara langkah, tanpa tanda, hanya kehadiran yang tiba-tiba memenuhi ruang udara. Jas hitamnya masih melekat sempurna, dasinya sedikit longgar, menandakan bahwa ia baru saja kembali dari urusan kantornya.
Sorot mata Eros jatuh tepat padanya. Gelap, menilai, sekaligus mengintimidasi.
Rose menahan napas. “Sejak kapan kau berdiri di situ?” tanyanya, suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar tegar.
Eros tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeser pandangannya sekilas ke ponsel di samping Rose, lalu kembali menatap wajahnya yang murung. Bibirnya melengkung tipis, tapi bukan senyum yang menenangkan—lebih seperti pengingat bahwa kehadirannya selalu berarti kendali.
🌹🌹🌹