Yuza mengusap pipi Tiara yang seketika basah karena setetes air mata dari pelupuk mata indah itu menetes kemudian dia memeluk erat wanita itu dan mencium puncak kepalanya. "Terima kasih, Sayang, kamu mau berjuang lepas dari masa kelam itu. Aku akan selalu ada untuk kamu, mendukung kamu, semangat." Yuza mengusap lembut punggung Tiara. "Mas, peluknya jangan lama-lama," pinta Tiara walau sejujurnya dia juga ingin terus dalan pelukan hangat Yuza. Yuza menarik diri dan melihat sekitar, keduanya sama-sama tersenyum canggung dan malu karena sudah menjadi pusat perhatian banyak orang di sana. "Kamu sudah makan?" tanya Yuza kemudian, dan kepala Tiara langsung menggeleng. Wanita itu belum makan siang karena setelah selesai jam prakteknya dia langsung konsultasi dengan Zizi. Bukan hanya dia yan

