Mark berdiri di ambang pintu, masih dengan pakaian gelapnya yang beraroma malam, debu, dan sedikit noda yang tak mampu disembunyikan meskipun ia sudah berusaha tampak santai. Matahari sudah tinggi ketika ia kembali, dan sinar terang yang masuk lewat jendela ruang tengah membuat wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya. Giana yang sedang duduk di sofa mendongak kaget. Napasnya tercekat, tubuhnya bangkit dengan cepat, dan sebelum Mark sempat berkata apa pun, Giana sudah berlari menghampirinya dan memeluknya dengan erat sekali. Pelukannya begitu kencang sampai d**a Mark terasa sedikit sesak. "Mark... kamu ke mana saja? Aku bangun dan kamu tidak ada. Aku... aku pikir kamu meninggalkanku," ucap Giana dengan suara gemetar. Mark mengembuskan napas panjang sambil mengusap rambut Giana pelan.

