Mark tidak melepaskan pelukannya, tangannya tetap melingkari tubuh Giana dengan erat seolah takut jika melepaskan satu inci saja, ia akan kehilangan momen ini. Nafasnya masih hangat menimpa rambut Giana, dan aroma parfum lembutnya membuat Mark merasa damai, nyaman, dan sekaligus bersemangat. Giana menahan tawa kecil, matanya berbinar karena melihat suaminya begitu lengket dan manja. “Mark… aku cuma mau membuatkan kopi untukmu sebentar saja,” katanya sambil mencoba melepaskan sedikit tangan dari pelukan itu. Mark menatapnya dengan mata setengah terpejam, senyum tipis terselip di bibirnya. “Tidak perlu kopi… aku tidak butuh kopi,” ucapnya lembut tapi tegas, suaranya hangat dan memikat. “Yang aku butuhkan hanyalah kau… hanya kau di sisiku sekarang.” Giana terkekeh, matanya menatap Mark den

