Bab 151

1116 Kata

Pagi itu rumah masih sunyi. Tirai kamar masih tertutup rapat, hanya sedikit cahaya yang menyelinapb dari sela-selanya. Mark masih terlelap, lengannya melingkar longgar di pinggang Giana. Napasnya teratur, wajahnya tenang, sama sekali tidak menyadari perubahan kecil yang terjadi di sampingnya. Giana menggeliat pelan. Awalnya hanya rasa tidak nyamban. Kepalanya terasa berat, seperti ditekan dari dalam. Ia mengernyit, membuka mata perlahan, lalu menutupnya kembali karena rasa nyeri itu justru semakin kuat. “Aduh…” gumamnya lirih. Ia mencoba bangun perlahan, tapi baru setengah duduk, mual tiba-tiba naik dengan brutal. Dadanya terasa sesak, tenggorokannya perih. Giana langsung menutup mulutnya, matanya membesar. “Mark…” panggilnya pelan, hampir berbisik, tapi tubuhnya sudah lebih dulu berg

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN