Mark sudah berdiri rapi di depan cermin ketika suara langkah kecil Giana terdengar dari arah kamarh. Wanita itu masih mengenakan piyama lembut, rambutnya tergerai sedikit berantakan, tapi wajahnya memancarkan ekspresi memohon yang sudah sangat ia hafal. “Aku ikut,” ucap Giana tanpa basa-basi sambil menyandarkan dagunya di bahu Mark. Mark menghela napas pelan, menatap pantulan mereka di cermin. “Sayang, hari ini jadwal aku padat banget. Meeting dari pagi sampai sore. Kamu bakal bosan.” Giana langsung menggeleng cepat. “Enggak. Aku bisa nunggu. Aku bisa duduk manis. Aku janji enggak rewel.” Mark berbalik, menghadap istrinya. “Ini bukan soal rewel. Kantor itu bukan tempat main. Banyak rapat penting. Aku harus fokus.” “Tapi aku mau,” suara Giana mulai melembut, kedua tangannya meraih leng

