Bab 79

932 Kata

Yaksa tidak lagi berpura-pura. Topeng lelaki sopan, mapan, dan penuh etika itu runtuh perlahan, digantikan wajah dingin yang tidak lagi peduli bagaimana orang lain melihatnya. Penolakan Giana bukan hanya melukai harga dirinya, tapi merusak ilusi kendali yang selama ini ia bangun dengan rapi. Ia tidak terbiasa ditolak. Dan lebih dari itu, ia tidak terbiasa kehilangan. Di ruang kerjanya yang sunyi, Yaksa berdiri menghadap jendela kaca besar, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berkilau seperti lautan api. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Di atas meja, tergeletak foto Giana yang diambil diam-diam dari kejauhan. Wajah gadis itu terlihat datar, sedikit lelah, namun tetap cantik dengan cara yang membuat Yaksa merasa berhak memilikinya. “Kalau cara baik tidak bisa,” gumamnya pelan,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN