Bab 82

971 Kata

Mark benar-benar mulai menyadari betapa dalam luka yang ditinggalkan semua kejadian itu ketika pagi telah berganti siang, tetapi Giana masih belum juga keluar dari kamar. Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi. Biasanya, meski lelah atau kesal, Giana tetap akan keluar sekadar duduk di ruang makan, mengeluh tentang kopi yang kurang manis, atau bertanya jadwal Mark hari itu. Sekarang, tidak ada suara langkah, tidak ada pintu terbuka, bahkan tidak ada keluhan kecil yang sering Mark anggap sepele. Mark berdiri di depan pintu kamar Giana cukup lama. Tangannya terangkat, lalu turun lagi. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya mengetuk pelan. “Giana… ini aku.” Tidak ada jawaban. Mark mengetuk lagi, kali ini lebih lembut. “Sayang, aku boleh masuk?” Hening. Mark menekan gagang pintu perlahan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN