Pagi menyelinap masuk melalui celah tirai jendela, menebarkan cahaya hangat yang menyinari kamar. Suara burung terdengar samar dari luar, dan aroma udara pagi yang segar masuk perlahan ke dalam kamar. Giana membuka mata perlahan, matanya masih berat karena kantuk, dan menatap sekeliling kamar dengan pandangan setengah mengantuk. Ia menoleh ke samping dan melihat Mark, masih terlelap di sampingnya. Tubuhnya yang hangat dan mantap membuat Giana tersenyum tipis. Meski baru bangun, hatinya sudah terasa hangat, merasa aman karena Mark ada di dekatnya. Giana mencondongkan tubuhnya sedikit, menyentuh lengan Mark dengan ujung jarinya, lembut, dan tersenyum pelan. “Mark… hmm… pagi… hmm…” gumamnya setengah mengantuk, bibirnya merekah tipis. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya, tapi tetap memeluk

