Giana sedang duduk di balkon hotel, menatap ombak yang tenang, menikmati pagi dengan Mark di sampingnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Nama “Papa” muncul di layar. Ia mengangkat alis, sedikit bingung, tapi segera menekan tombol terima panggilan. “Halo, Papa?” suaranya lembut, sedikit ragu. Di seberang telepon, suara Arka terdengar berat, terdengar rapuh, berbeda dari biasanya. “Gi… aku… aku ingin meminta maaf…” Suara Arka bergetar, menandakan perasaan bersalah yang mendalam. Giana menatap Mark, lalu kembali menundukkan pandangan ke ponselnya. “Maaf? Maaf untuk apa, Papa?” Suaranya terdengar bingung, tidak mengerti mengapa ayahnya tiba-tiba meminta maaf seperti itu. Arka menelan ludah, napasnya tersengal. “Aku… aku hampir… hampir menjodohkanmu dengan lelaki yang… yang tidak baik. Aku ba

