Meja makan itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Lampu gantung memancarkan cahaya hangat, tapi suasana justru membuat Giana merasa dingin. Sendok di tangannya berhenti bergerak sejak Arka membuka pembicaraan barusan. Giana menatap Papa dan Mamanya bergantian. Senyum tipis di wajah keduanya sama sekali tidak menenangkan. “Apa Papa serius?” suara Giana akhirnya keluar, pelan tapi jelas. Arka meletakkan sendoknya, menautkan kedua tangan di atas meja. “Papa tidak bercanda, Gia. Papa dan Mama sudah memikirkannya lama.” Giana menggeleng cepat. “Tapi kenapa tiba-tiba? Aku masih kuliah. Aku—aku belum mau mikirin hal kayak gitu.” Diana ikut menyela dengan suara lembut. “Mama tahu kamu belum kepikiran menikah sekarang. Tapi ini bukan soal buru-buru, sayang. Ini soal masa depan kamu.” “Mas

