Udara di dalam kabin Mercedes-Benz hitam itu semakin berat, seolah-olah setiap molekul oksigen telah digantikan oleh residu kecemburuan yang kental dan panas. Alaric Valerius tidak berkedip. Matanya yang merah karena kurang tidur terus terpaku pada gerbang utama gedung Fakultas Hukum, mencari satu sosok yang kini menjadi pusat dari seluruh kegilaannya. Di seberang jalan, kerumunan mahasiswa mulai menghambur keluar, menciptakan lautan tawa dan obrolan ringan yang terasa seperti suara statis yang mengganggu di telinga Alaric. Mereka tampak begitu ringan, begitu tanpa beban, seolah-olah dunia tidak memiliki kerumitan selain tugas kuliah atau rencana makan siang. Alaric membenci pemandangan itu. Ia membenci kepolosan mereka, dan ia membenci kenyataan bahwa Seraphina Azkadina kini menjadi bagi

