Udara di dalam kabin Rolls-Royce Phantom milik Alaric Valerius sore itu terasa sangat statis, seolah-olah waktu membeku di antara jok kulit yang beraroma maskulin dan kebisuan yang menyelimuti dua penumpangnya. Seraphina Azkadina duduk dengan kaki menyilang, menatap keluar jendela pada deretan gedung pencakar langit Jakarta yang mulai menyalakan lampu-lampu kantornya. Di sampingnya, Alaric duduk dengan rahang yang mengeras, matanya terpaku pada layar iPad, berusaha keras mengabaikan keberadaan gadis di sampingnya yang baru saja ia jemput dari salah satu pusat perbelanjaan kelas atas. Ketegangan di antara mereka bukanlah ketegangan karena kemarahan, melainkan ketegangan dari gairah yang terpendam dan rasa bersalah yang saling bertabrakan. Alaric tidak bicara, dan Sera menyukai keheningan it

