Hancurnya Sang Permata.

1005 Kata

​Udara di dalam ruang kerja Alaric Valerius mendadak terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulit Seraphina Azkadina, membekukan aliran darahnya hingga ke sumsum tulang. Kata "pelampiasan" yang baru saja keluar dari bibir pria yang ia puja itu bergema di dinding-dinding marmer yang dingin, memantul berulang kali di dalam gendang telinganya seperti vonis mati yang dijatuhkan tanpa pengadilan. Sera merasa dunianya bukan lagi sekadar retak, melainkan hancur menjadi debu yang tak kasatmata. Ia menatap Alaric dengan pandangan yang kosong, sebuah tatapan yang perlahan kehilangan binar hidupnya, digantikan oleh kegelapan yang pekat dan menyesakkan. Harga dirinya, yang selama ini ia jaga dengan penuh cinta dan pengabdian kepada pria di hadapannya, kini terasa seperti sampah murah yang diinjak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN