Baskara tidak memberi celah sedikit pun. Ia langsung membungkam bibir Sena dengan ciuman yang kasar dan menuntut, sebuah ciuman yang tidak dilandasi kelembutan, melainkan keinginan untuk menguasai Sena. Sena meronta, tangannya memukul-mukul d**a Baskara, namun pria itu justru semakin menjadi. Ia menyesap bibir Sena lebih kuat, mengabaikan rintihan tertahan istrinya hingga Sena merasa pasokan oksigennya menipis dan paru-parunya mulai menyempit. Ditengah ciuman itu, ponsel Baskara di atas nakas berdering nyaring. Baskara mendengus di sela ciumannya, tidak memedulikan gangguan itu. Ia justru semakin menekan tubuh Sena ke kasur. Namun, ponsel itu berdering lagi untuk kedua kalinya, diikuti rentetan bunyi notifikasi pesan yang bertubi-tubi. "Sialan!" umpat Baskara parau. Ia melepaskan taut

