Suara napas Ardi kini terdengar memburu, kasar, dan tak beraturan, serupa geraman binatang buas yang telah menemukan titik vital mangsanya. Ardi seolah terpacu oleh pengkhianatan biologis yang ditunjukkan tubuh Amelia. jepitan dinding v****a yang semakin liar, panas, dan membanjir basah. Keadaan itu bukan dianggapnya sebagai bentuk respon alami tubuh manusia, melainkan sebuah penyerahan diri yang menantang egonya. Setiap denyutan di bawah sana menjadi bahan bakar bagi Ardi untuk melipatgandakan kebiadapannya, mengubah gairah menjadi sebuah instrumen penyiksaan fisik dan mental yang sangat nyata. "Aahhhh.... Amel.... E-enak banget!" erang Ardi dengan suara serak yang dipenuhi kepuasan egois. Matanya yang memerah karena kabut nafsu menatap penuh kemenangan pada wajah Amelia yang hancur

